Home » » Membeli Properti Dengan Cara TakeOver

Membeli Properti Dengan Cara TakeOver

Written By kprbersubsidi on Thursday, 9 May 2013 | 05:33


Berdasarkan data Bank Indonesia di Triwulan ke-3 tahun 2012, sebanyak 80,5% masyarakat Indonesia membeli properti dengan menggunakan KPR alias Kredit Pemilikan Rumah dari bank.

Dari total 80,5% tersebut tidak semua kreditur KPR menyelesaikan masa pembayaran kreditnya. Ada kalanya mereka menjual properti yang sedang dijaminkan. Misalnya suatu properti yang dulu dibeli dengan masa kredit selama 10 tahun, tapi baru 5 tahun sudah ditawarkan pemiliknya untuk dijual. Pemilik masih terikat untuk mencicil hutangnya hingga 5 tahun ke depan, dan surat-surat kepemilikan masih disimpan di Bank sebagai pemberi kredit.

Takeover kredit prperti adalah pembelian properti yang masih terikat cicilan kredit. Take Over kredit KPR adalah proses pengalihan kredit dari debitur lama (penjual) ke pihak debitur baru (pembeli). Proses ini harus dilakukan di bank untuk memastikan legalitasnya, agar tidak merugikan pihak penjual maupun pembeli.

Ada dua hal yang bisa anda lakukan. Yang pertama tentu adalah pembelian secara cash. Jika jumlah dana mencukupi, anda bisa membayarkan jumlah sesuai kesepakatan kepada si penjual. Sebagian uang yang anda bayarkan akan digunakan untuk melunasi sisa kredit sehingga sertifikat asli akan dikeluarkan oleh pihak bank. Proses selanjutnya tentu pengurusan surat-surat pindah kepemilikan properti di Notaris.

Dalam proses take over kredit KPR ini, setelah tercapai kesepakatan harga, maka pembeli mengajukan kredit KPR baru untuk membeli properti yang diincarnya. Sementara pihak bank akan meminta penjual untuk melunasi sisa pokok hutang KPR nya. Sebelum menyetujui permohonan alih kredit, pihak bank akan mengecek sejarah pembayaran debitur lama sekaligus meneliti kemampuan bayar calon pembeli dalam meneruskan angsuran. Oya, take over kredit KPR ini bisa dilakukan di bank yang sama dengan yang memberikan KPR sebelumnya ke penjual, atau ke bank lain.

Ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam membeli properti dengan cara ini. Berikut kita bahas satu per satu ya..

Keuntungan Membeli Properti Dengan Cara TakeOver
  • Surat-surat kepemilikan lebih aman. Properti yang dibeli melalui KPR berarti telah melalui proses seleksi di Bank. Pihak Bank biasanya hanya mau membiayai properti dengan surat-surat/sertifikat kepemilikan yang lengkap, IMB yang legal dan pembayaran pajak yang sesuai. Pembelian properti secara take over akan mengalihkan kepemilikan dari pemilik lama menjadi hak anda, dengan melibatkan pihak bank dan notaris untuk memastikan legalitas semua dokumen yang diperlukan.
  • Mendapatkan properti yang ‘sesuai’. Properti yang dibeli dengan skema take over KPR biasanya telah berumur beberapa tahun sehingga sudah ada bentuk fisiknya dan siap ditempati/digunakan. Berbeda dengan membeli rumah dari developer yang kadang-kadang harus menunggu untuk dibangun.
  • Nilai properti lebih tinggi. Nilai suatu properti di lokasi yang sedang berkembang biasanya naik sejalan dengan waktu. Membeli properti yang masih dijaminkan dengan nilai kredit beberapa tahun yang lalu berarti anda membeli properti dengan nilai taksiran masa lalu. Nilai jualnya saat ini bisa lebih tinggi. Lakukan riset  harga rumah yang setara di lingkungan sekitar untuk memastikan.
Kerugian Membeli Properti Dengan Cara TakeOver
  • Proses lebih rumit. Membeli properti secara take over KPR bisa lebih rumit dari membeli rumah baru dari developer karena ada 2 proses yang perlu dilakukan yaitu melunasi KPR pemilik lama dan mengajukan KPR baru untuk pembeli. Walaupun demikian, biasanya pihak bank bisa membantu dalam proses ini.
  • Tambahan biaya. Dengan mengajukan KPR untuk membeli properti idaman, berarti anda perlu membayar semua biaya administrasi yang diperlukan, termasuk asuransi jiwa, asuransi kebakaran dan biaya provisi kredit. Padahal untuk properti yang sama, pemilik lama telah membayar biaya-biaya tersebut saat pembeliannya (secara KPR).
  • Surat-surat belum beres. Pada properti yang dibeli langsung dari developer melalui kredit, kadang-kadang ada kasus surat-surat kepemilikan yang belum beres. Cermati sertifikat kepemilikan (pemecahan sertifikat dari developer), IMB bangunan dan pajak-pajaknya.
  • Perbaikan. Karena properti yang dibeli bukanlah fresh from developer, tidak ada garansi untuk perbaikan yang diperlukan. Hitunglah dulu kira-kira biaya renovasi yang diperlukan jika properti belum siap huni.
  • Bunga properti seken lebih tinggi. Di hampir semua bank, bunga untuk properti seken lebih tinggi dari bunga KPR untuk properti dari developer.
Melihat keuntungan dan kerugiannya, silakan pertimbangkan untung ruginya sebelum memutuskan untuk membeli properti idaman secara take over KPR.
advertisement


0 comments:

Post a Comment

Info Populer

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS